Inuyasha

Senin, 04 April 2016



PERUBAHAN POLITIK DAN KONFLIK PENGANTAR

Perubahan politik mencakup perubahan pemerintrah atau perubahan rezim, atau dalam beberapa kasus perubahan keduanya . dalam kasus pertama, sekelompok orang hanya mengambil alih pemerintahan. Perubahan tersebut ditandai  dengan  penggantian cara-cara lama dalam pemenuhan  hak-hak dan kewajiban-kewajiban warga negara dengan cara lain : dan di tandai pula dengan pihak dan upaya untukl mendefinisikan tanggung jawab pemerintahan terhadap masyarakat dan anggota anggota nya. Misalnya, suatu bangsa bisa sebaliknya dari rezim demokratis kepada rezim demokraktis atau sebaliknya dari rezim demokraktis kepada rezim totaliter.
Perubahan politik bisa terjadi secara rutin, bisa juga dibarengi dengan kekacauan sosial yang bersifat total. Rezim-rezim demokraktis telah menetapkan ketentuan-ketentuan, baik bagi perubahan pemerintah maupun bagi perubahan rezim.
Di negara-negara lain , perubahan politik seringkali mengambil bentuk-bentuk kekerasan. Berbagai studi menunjukan bahwa kekerasan paling sering muncul ketika terjadi tindakan-tindakan resersif oleh pemerintah dan secara relatif terdapat sedikit partisipasi politik seperti voting. Studi-studi lain menunjukkan cara perubahan politik yang mungkin terjadi di dalam suatu masyarakat yang berkaitan dengan segmen-segmen tertentu dari masyarakat yang mencari perubahan.
Perubahan politik entah rutin, entah disruptif selalu mencakup tindakan-tindakan kelompok-kelompok sosial. Kadang kadang kelompoknya kecil, seperti dalam kasus “revolusi istana” di mana pemerintah secara paksa diganti dengan pemerintahan yang lain dengan sedikit atau tanpa keterlibatan publik massa. Tindakan-tindakan seperti itu menyebabkan konflik dan perubahan politik.


1.       PARTISIPASI DALAM PERUBAHAN POLITIK YANG RUTIN
Yang di maksudkan dengan tindakan-tindakan partisipasi politik yang rutin adalah tindakan-tindakan yang di anjurkan, meskipun tidak diperlukan, di dalam suatu masyarakat orang yang “melakukan kewajibannya” adalah warga negara yang baik partisipasi semacam itu mengespresikan kepercayaan akan legitimis struktur kekuasaan dan otoritas masyarakat. Adapun beberapa cara khas untuk berpartisipasi, sebagai berikut :
a)      Pemungutan suara (Voting)
Di amerika  serikat, terdapat sekitar 21% warga negara yang mengikuti pemungutan suara secara regular. Namun merekla tidak berusaha mempengaruhi aksi-aksi pemerintah dengan cara lain manapun. Voting menimbulkan tekanan yang kuat atas figur-figur ,tetapi hal itu membawa sedikit informasi.


b)      Kontak-kontak berdasarkan inisiatif warga negara
Sekitar 4% populasi amerika serikat melakukan kontak dengan pejabat-pejabat politik untuk menyampaikan hal-hal yang mereka anggap penting. Orang-orang ini memberikan suara mereka dalam pemilihan umu , namun tidak berminat terhadap aktivitas komunal atau kampanye.
c)       Aktivitas kampanye
Sekitar 15% populasi amerika serikat yang  menjadi partisipan aktif dalam kampanye-kampanye politik.  Namun mereka praktis tidak meminatti aktivitas komunitas.
d)       Partisipasi kooperatif
Sekitar 20% populasi amerika serikat yang dengan sukarela aktif dalam urusan-urusan komunitas, sementara itu mereka pun tetap berada di luar alam kampanye yang secar relatif ditandi dengan konflik.


2.       PARTISIPASI DALAM PERUBAHAN YANG DISRUPTIF (Kacau)
Menurut Seymour M.Lipset, dua sumber daya paling pentinf yang dimiliki pemerintahdalam situasi konflik adalah legitimasi dan efektivitas. Sistem politik yang efektif dan legitim (absah), seperti yang di miliki amerika serikat, swendia, dan inggris misalnya, cenderung menjadi stabil.
Kelompok-kelompok yang mengusahakan perubahan politik melalui cara tidak rutin lebih mungkin melakukan tindakan jika mereka mempunyai sumber day berikut ini. Adanya tingkat motivasi yang tinggi , adanya dukungan yang luas, adanya perlindungan terhadap tindakan balasan pemerintah, dan adanya kemampuan untuk menekan para penguasa.
Orang mungkin sangat bermotivasi jika mereka merasa bahwa pemerintah atau rezim yang ada menindas hak-hak penting mereka.sedangkan dukungan yang luas, tingkat motivasi yang tinggi bisa saja esensial bagi aksi politik yang radikat dan kacau, tetapi tidak esensial bagi reformasi.







3.       SEBAB-SEBAB PERUBAHAN POLITIK
Dalam bentuk tertentu , perubahan politik terjadi secara kontinui didalam setiap masyarakat, ini berkaitan erat dengan perubahan kondisi  internal dan eksternal sebagai dampak dari sifat dan interaksi antar kelompok sosila yang ada, pengantian aktor politik dan kepemimpinan suatu masyarakat, dan surutnya generasi tua dan munculnya generasi muda ke pentas politik, semua ini dapat menimbulkan perubahan politik.
Suatu teori alternartif yang dikemukakan oleh Raymond aron, mengungkapkan bahwa penyebab kehidupan sosial adalah kelahiran perkembangan masyakarat industri, yang dirangsang oleh perkembangan sains dan teknologi modertn, serta perluasan teori tersebut di erta pascaindustri. Dikatakan bahwa sains dan teknologi yang menentukan perkembangan ekonomi .
Berbeda dengan itu adalah sedikitnya perhatian para ahli sosiologi terhadap dampak politik dari peperangan. Padahal cukup jelas bahwa perang merupakansuatu faktor penting dalam proses perluasan dan pengokohan kekuatan negara.
Kecenderungan tumbuhnya masyarakat perang  mencapai puncaknya pada abad ke-17 di eropa barat, yang di tandai dengan perkembangan awal kapitalisme dan negara bangsa dan perang agama. Periode lainnya adalah abad ke-20 yang di tandaidengan 2 kali terjadi perang dunia dan banyak terjadi perang lokal.
Perang demi perang pada gilirannya merangsang apa yang disebut “militerisasi” masyarakat di dunia industri. Kesiagaan berperang dan dampak nyata dari sebuah perang mendapat perhatian serius di dunia politik. Sementara itu para pemimpin militer mendapatkan posisi dominan dalam sistem politik. Kapasitas ekonomi pun dipacu untuk mendukung kebutuhan militer.
Para pemikir marxis membuat pembedaan antara perang yang disebabkan oleh pesaing imperialis, yaitu peramng yang timbul karena konflik , dan perang kemerdekaan yang anti kolonialisme. Di katakan bahwa kepentingan nasional dapat memicu konfrontasi militer dan penggunaan senjata antar bangsa. Hal ini terjadi di hungaria pada tahun 1956, dan di cekoslowakia pada tahun 1968.
Menurut maxis, reproduksi budaya mengacu pada proses dengan mana suatu bentuk formasi sosial tertentu mempertahankan dirinya, secara kontinue menurut bentuk yang ada. Dalam proses ini, sistem politik atau bentuk negara dan sistem ekonomi, termaksud norma-norma budaya, saling berhubungan untuk memproduksi masyarakat secara keseluruhan.







4.       BEBERAPA TIPE PERUBAHAN POLITIK
Di atas telah disinggung dua macam perubahan politik, yaitu perubahan politik yang rutin dan perubahan politik yang nonrutin atau disruptif. Berikut ini akan di buat pembedaan tipe-tipe perubahan politik secara agak rinci, sebagai berikut :
1.       Perubahan yang terjadi secara gradual dan perubahan secara mendadak.
2.       Perubahan besar dan perubahan kecil.
3.       Perubahan yang terjadi dengan kekerasan dan perubahan yang terjadi dengan damai.
Perubahan politik ini bisa terjadi secara perlahan-lahan dan bersifat kecil-kecilan, tetapi tidak harus secara damai. Seringkali, pergantian dinasti terjadi melalui pembunuhan dan kekerasan lainnya. Tapi tidak menghasilkan perubahan fundamental dalam sistem politik.

Fasisme di eropa dipakai sebagai sarana untuk melakukan “revolusi modernisasi dari atas”  di lingkungan masyarakat yang belum mengalami keberhasilan revolusi demokratis. Di lain pihak, rezim-rezim semacam itu merupakan penyatuan berbagai kecenderungan intristik yang terdapat di “masyarakat massa” modern, karena peningkatan kekuasaan negara dan perluasan pengaruhnya, karena pertumbuhan nasionalisme dan persaingan internasional,termaksud karena pergulatan elite-elite politik yang puunya massa.